Chat WhatsApp

Artikel Press Release Sudah Terbit, Lalu Apa? 6 Cara Memaksimalkannya

· Partnermedia.id

Tangan di laptop yang menampilkan grafik
Foto: ThisIsEngineering / Pexels

Jawaban singkat

Setelah press release terbit, kerjakan enam langkah: cek isi dan arsipkan tiap link, bagikan ke kanal yang tepat, ukur dampaknya, kirim terima kasih ke redaksi, simpan liputan sebagai portofolio, lalu rencanakan kabar berikutnya. Kalau ada fakta yang keliru, minta koreksi ke redaksi media itu dengan data yang benar.

Link liputan sudah di tangan dan nama bisnismu muncul di media online. Godaannya, link itu dibagikan sekali di grup keluarga, lalu terlupakan. Padahal artikel yang terbit bisa dipakai berbulan-bulan kalau kamu mengurusnya dengan rapi. Panduan ini berisi enam langkah yang bisa kamu kerjakan sejak hari artikel tayang.

Apa yang harus dilakukan setelah press release terbit?

Kerjakan enam langkah ini berurutan: cek dan arsipkan link, bagikan, ukur hasilnya, hubungi media, simpan untuk portofolio, lalu rencanakan kabar berikutnya. Urutannya penting, karena kamu tentu tidak mau membagikan artikel yang ternyata salah menulis nama produkmu.

Langkah pertama sebaiknya selesai di hari tayang. Sisanya bisa menyusul dalam beberapa minggu, sesuai ritme bisnismu.

Bagaimana cara mengecek dan mengarsipkan artikel press release yang sudah tayang?

Buka tiap link satu per satu, baca sampai habis, lalu cocokkan dengan naskah yang kamu setujui. Setelah itu, simpan cadangannya. Saat mengecek, fokus ke bagian yang paling berisiko keliru:

  • Nama orang, jabatan, dan nama bisnis, termasuk ejaannya.
  • Angka, tanggal, harga, dan alamat.
  • Kutipan narasumber, apakah maknanya masih sama setelah disunting.
  • Link ke situsmu, kalau ada, apakah masih mengarah ke halaman yang benar.

Redaksi berhak menyunting, jadi judul yang berbeda atau paragraf yang dipotong belum tentu kesalahan. Yang perlu kamu tindak lanjuti adalah fakta yang keliru.

Kalau menemukan fakta yang salah, minta koreksi ke redaksi media itu dengan data yang benar. Pedoman Pemberitaan Media Siber dari Dewan Pers, yang ditandatangani di Jakarta pada 3 Februari 2012, mewajibkan ralat, koreksi, dan hak jawab ditautkan pada berita yang diralat, serta mencantumkan waktu pemuatannya (ANTARA). Media siber adalah sebutan untuk media berita yang terbit di internet.

Untuk arsip, kumpulkan semua link di satu tempat, lalu buat cadangan isinya. Halaman artikel bisa saja hilang atau pindah alamat, misalnya kalau situs medianya tutup, jadi arsipmu sendiri menjadi pegangan kalau suatu saat halaman itu tidak bisa dibuka.

  • Buat lembar kerja berisi judul artikel, nama media, tanggal tayang, dan link.
  • Simpan tangkapan layar halaman penuh dan versi PDF tiap artikel.
  • Simpan salinan di Wayback Machine milik Internet Archive lewat fitur Save Page Now. Menurut halaman bantuannya, kamu cukup memasukkan URL ke formulir, menekan tombol, lalu langsung mendapat URL permanen untuk halaman itu (Internet Archive).

Halaman bantuan yang sama menyebut fitur ini hanya menyimpan satu halaman, dan sebagian situs melarang crawling, yaitu pengambilan halaman oleh program otomatis. Jadi tangkapan layar dan PDF tetap perlu kamu simpan sendiri.

Di mana sebaiknya link liputan dibagikan?

Bagikan ke tempat yang memang dilihat calon pembeli dan mitramu: akun media sosial bisnis, kontak WhatsApp yang relevan, dan halaman di situsmu. Ide unggahannya ada di Apakah Press Release Masih Efektif di Era Media Sosial?, sedangkan cara meyakinkan calon pembeli dibahas di Cara Memanfaatkan Link Liputan Media untuk Meyakinkan Calon Pembeli.

Di kanal mana pun, pegang dua prinsip berikut:

  • Tautkan ke artikel aslinya dan kutip seperlunya, jangan menyalin seluruh isinya ke situsmu.
  • Jangan mengubah judul atau menambahkan klaim yang tidak ada di artikel.

Kalau liputanmu tayang di beberapa media, bagikan bertahap supaya kamu punya alasan baru untuk muncul di linimasa pengikutmu selama beberapa minggu.

Bagaimana mengukur hasil press release?

Ukur dari data yang kamu pegang sendiri: kunjungan ke situsmu, pertanyaan yang masuk, dan jawaban calon pembeli soal dari mana mereka tahu bisnismu. Jumlah pembaca artikel ada di tangan media, bukan di tanganmu, jadi jangan jadikan itu satu-satunya patokan.

  • Pasang parameter UTM di link yang kamu sebar sendiri. UTM adalah label pendek di ujung URL yang memberi tahu Google Analytics dari mana kunjungan berasal. Halaman bantuan Google Analytics menyarankan selalu memakai utm_source, utm_medium, dan utm_campaign, dan nilainya terlihat di laporan Traffic acquisition (Google Analytics Help).
  • Catat pertanyaan yang masuk. Tanyakan ke calon pembeli yang menghubungimu, "Dari mana tahu usaha ini?", lalu catat jawabannya di lembar kerja yang sama dengan daftar link.
  • Bandingkan sebelum dan sesudah. Lihat jumlah pertanyaan dan kunjungan beberapa minggu sebelum dan sesudah tayang, sambil ingat bahwa promo atau musim juga ikut memengaruhi angkanya.

Contoh link untuk dibagikan lewat WhatsApp: contoh.com/?utm_source=whatsapp&utm_medium=pesan&utm_campaign=liputan-oktober. Alamat dan nama kampanye ini rekaan. Link di dalam artikel media diatur redaksi, jadi UTM cuma bisa kamu pasang di link yang kamu sebar sendiri.

Perlukah menghubungi media setelah artikel terbit?

Perlu, cukup ucapan terima kasih singkat ke redaksi atau wartawan yang memuatnya, kalau kamu punya kontaknya. Tujuannya menjaga hubungan, bukan meminta perubahan.

  • Tawarkan diri sebagai narasumber untuk topik di bidangmu, kalau suatu saat redaksi butuh pendapat.
  • Jangan meminta judul diganti, paragraf ditambah, atau artikel dinaikkan lagi, karena semua itu keputusan redaksi. Pengecualiannya koreksi fakta seperti di atas.

Kalau press release-mu didistribusikan lewat jasa, tanyakan dulu ke penyedianya sebelum menghubungi redaksi langsung.

Bagaimana menyimpan liputan untuk portofolio?

Buat satu halaman ringkas berisi daftar liputan: judul artikel, nama media, tanggal tayang, dan link. Halaman ini bisa kamu lampirkan saat mengajukan kerja sama, mendaftar pameran, atau menyusun profil perusahaan.

  • Urutkan dari liputan terbaru, dengan satu kalimat konteks soal kabar yang diberitakan.
  • Tulis nama media sebagai teks, jangan menempel logo media tanpa izin.
  • Perbarui setiap ada liputan baru, dan cek ulang link lama beberapa bulan sekali.

Kapan sebaiknya merilis kabar berikutnya?

Rilis lagi saat kamu punya kabar baru yang layak diberitakan, bukan sekadar karena rilis pertama sudah tayang. Pakai momen ini untuk menyusun daftar calon kabar dari rencana bisnismu beberapa bulan ke depan.

Misalnya, toko roti di Malang baru diliput soal kerja sama dengan petani gandum lokal. Dari rencana bisnisnya, pemilik mencatat calon kabar berikutnya: pembukaan cabang kedua, kelas membuat roti untuk siswa sekolah dasar, dan hasil survei kecil ke pelanggan tentang menu sarapan. Tiap kabar baru dirilis kalau benar-benar terjadi dan datanya lengkap. Contoh ini rekaan untuk ilustrasi.

Untuk memilih momennya, baca Kapan Waktu Terbaik Merilis Press Release? Hari, Jam, dan Momen yang Tepat.

Tanya-jawab

Bagaimana kalau judul artikel berbeda dari naskah yang dikirim?

Itu belum tentu masalah, karena redaksi berhak menyunting judul dan isi naskah. Cek ulang nama, angka, tanggal, dan kutipan di artikel itu. Kalau semuanya masih benar, artikel itu bisa langsung kamu bagikan. Kalau ada fakta yang keliru, minta koreksi ke redaksi dengan data yang benar.

Apa yang harus dilakukan kalau artikel press release dihapus media?

Buka arsip yang sudah kamu simpan, lalu tanyakan alasannya ke redaksi atau ke penyedia jasa yang kamu pakai. Pedoman Pemberitaan Media Siber menyebut berita yang sudah dipublikasikan tidak dapat dicabut karena alasan penyensoran dari pihak luar redaksi, kecuali untuk alasan tertentu. Pencabutan juga wajib disertai alasan dan diumumkan ke publik.

Kalau kunjungan ke website tidak naik, apakah press release gagal?

Belum tentu, karena sebagian pembaca mungkin langsung menghubungimu lewat WhatsApp atau mencari namamu tanpa mengklik link, jadi cek juga catatan pertanyaan yang masuk. Liputan juga tetap berguna sebagai bukti saat calon mitra mengecek bisnismu.

Apakah perlu membuat press release baru setiap bulan?

Tidak harus setiap bulan. Ukurannya ada atau tidaknya kabar baru yang layak diberitakan, bukan jadwal. Naskah tanpa kabar baru berisiko ditolak redaksi dan membuang biaya.

Mau kabar berikutnya tayang di media online?

Kalau kamu sudah punya calon kabar berikutnya, Partnermedia.id bisa membantu dari penulisan naskah sampai distribusi ke media online nasional. Di paket distribusi, penulisan naskah gratis, kamu bebas memilih media sesuai jumlah paket, ada garansi tayang, dan kamu menerima laporan link semua artikel, bahan awal untuk langkah cek dan arsip di atas. Artikel tayang permanen selama situs media aktif. Redaksi tetap berhak menyunting atau menolak naskah, dan kalau ditolak, naskah bisa direvisi atau dialihkan ke media pengganti. Ceritakan kabarmu lewat WhatsApp, Senin–Jumat pukul 09.00–18.00.

Mau kabar bisnismu tayang di media online nasional? Partnermedia.id bantu tulis naskahnya dan kirim ke media pilihanmu.

Konsultasi lewat WhatsApp