Chat WhatsApp

Apakah Press Release Masih Efektif di Era Media Sosial?

· Partnermedia.id

Koran, ponsel, dan cangkir kopi di meja kayu
Foto: Markus Spiske / Pexels

Jawaban singkat

Press release masih efektif kalau tujuanmu punya catatan resmi yang bisa dirujuk, liputan dari pihak ketiga, jejak di hasil pencarian, dan bahan untuk calon mitra atau investor. Press release kurang cocok untuk jualan cepat atau mengejar viral. Hasilnya lebih terasa kalau link liputannya kamu bagikan ulang lewat media sosial, bio, dan proposal.

Sekarang bisnis bisa mengumumkan apa saja lewat Instagram, TikTok, atau grup WhatsApp dalam hitungan menit. Wajar kalau muncul pertanyaan: buat apa lagi repot menulis press release dan menunggu redaksi memuatnya? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Press release masih berguna untuk beberapa tujuan, dan hampir tidak berguna untuk tujuan lain. Panduan ini membantu kamu memilah keduanya.

Apakah press release masih efektif sekarang?

Masih, asalkan tujuanmu cocok. Press release efektif untuk membangun catatan resmi dan kepercayaan, tapi bukan alat untuk mendongkrak penjualan minggu ini.

Masalahnya sering muncul karena press release dinilai dengan ukuran media sosial. Orang menghitung like dan komentar, lalu kecewa. Padahal press release bekerja dengan cara lain. Hasilnya berupa artikel di media yang bisa dibuka lagi bertahun-tahun kemudian, oleh orang yang sedang mencari tahu tentang bisnismu. Kalau belum yakin apa itu press release, mulai dari Apa Itu Press Release, dan Kapan Bisnismu Perlu Membuatnya?.

Untuk tujuan apa press release masih efektif?

Press release paling berguna saat kamu butuh bukti tertulis dari pihak lain, bukan sekadar pengumuman dari akunmu sendiri. Ini tujuan-tujuan yang paling pas:

  • Catatan resmi yang bisa dirujuk. Kemitraan, peluncuran, pergantian pengurus, atau klarifikasi isu tercatat di media dengan tanggal yang jelas. Kalau suatu hari ada yang bertanya "kapan itu diumumkan?", kamu punya link-nya.
  • Kredibilitas dari pihak ketiga. Unggahan di akunmu dibaca sebagai klaimmu sendiri. Artikel yang dimuat redaksi melewati pertimbangan orang di luar bisnismu.
  • Jejak di hasil pencarian. Calon pelanggan atau mitra biasanya mengetik nama bisnismu di Google sebelum memutuskan. Artikel media yang terindeks bisa ikut muncul di sana, walau posisinya tidak bisa dijamin. Soal Google News, ada pembahasan terpisah di Press Release dan Google News.
  • Bahan untuk sales, investor, dan mitra. Link liputan bisa kamu lampirkan di proposal, profil perusahaan, atau email perkenalan.
  • Bahan konten media sosial. Satu liputan bisa jadi beberapa unggahan. Caranya dibahas lebih rinci di bawah.

Untuk tujuan apa press release kurang cocok?

Press release kurang cocok kalau kamu butuh hasil cepat yang bisa diukur dalam hitungan hari, seperti penjualan atau keramaian di media sosial.

Ada tiga alasan utamanya. Pertama, redaksi memotong bahasa jualan, jadi kode diskon dan ajakan membeli jarang bertahan. Kedua, kamu tidak bisa menentukan tanggal dan bentuk akhir tulisan, karena redaksi berhak menyunting atau menolak. Ketiga, artikel berita jarang jadi bahan obrolan ramai seperti video pendek. Kalau tujuanmu viral, konten media sosial dan iklan lebih masuk akal.

Press release juga bukan pengganti akun media sosial yang aktif. Pertanyaan pelanggan, keluhan, dan obrolan harian tetap perlu dijawab di kanal yang mereka pakai.

Tabel ini merangkum mana yang lebih pas untuk tiap tujuan.

TujuanPress releaseMedia sosial
Catatan resmi bertanggalCocokKurang cocok, unggahan mudah tenggelam atau dihapus
Kesan dinilai pihak ketigaCocok, kalau dimuat redaksiKurang cocok, dibaca sebagai klaim sendiri
Muncul saat namamu dicariBisa membantu, tanpa jaminan posisiBisa membantu, tergantung platform
Jualan cepat dan promoKurang cocokCocok
Mengejar viralKurang cocokLebih mungkin, tanpa jaminan
Mengobrol dengan pelangganTidak cocokCocok

Kalau orang dapat berita dari media sosial, untuk apa masuk media?

Justru karena orang banyak membaca berita lewat media sosial, liputan media tetap punya tempat. Yang dibagikan di sana bisa berupa link artikel media.

Digital News Report 2026 dari Reuters Institute mencatat 64% responden di Indonesia mengaku mendapat berita dari media sosial. WhatsApp jadi yang paling menonjol, dipakai 56% responden untuk berita, naik 13 poin persentase dari tahun sebelumnya (Reuters Institute). Survei ini dilakukan YouGov secara daring, jadi angkanya lebih tepat dibaca sebagai gambaran pengguna internet, bukan seluruh penduduk (metodologi). Pengguna internetnya sendiri banyak. Survei APJII 2026 mencatat sekitar 235,26 juta orang Indonesia terhubung ke internet, atau 81,72% penduduk (detikInet).

Laporan yang sama juga memuat catatan yang perlu kamu tahu. Kepercayaan pada berita secara umum di Indonesia turun dari 36% pada 2025 menjadi 32%. Artinya, dimuat di media tidak otomatis membuat orang percaya. Liputan media memberi pijakan, tapi isi kabarnya tetap harus bisa dicek dan masuk akal.

Bagaimana memakai liputan press release di media sosial?

Perlakukan link liputan sebagai bahan baku. Satu artikel yang tayang bisa kamu pakai di beberapa tempat, berbulan-bulan setelah terbit.

Ini beberapa cara yang bisa langsung kamu coba:

  • Unggah dengan kutipan, bukan cuma link. Ambil satu kalimat penting dari artikel, tulis sebagai teks di gambar, lalu sebut nama medianya dengan benar. Taruh link di keterangan atau stories.
  • Simpan di bio dan sorotan. Buat sorotan Instagram atau halaman link di bio berisi "Diliput media", lengkap dengan link ke artikel aslinya.
  • Sematkan di profil. Unggahan liputan bisa disematkan di atas profil supaya pengunjung baru langsung melihatnya.
  • Kirim ke kontak yang relevan. Bagikan link ke mitra, pemasok, atau pelanggan lama lewat WhatsApp, dengan satu kalimat pengantar yang menjelaskan kenapa kabar ini penting buat mereka.
  • Masukkan ke proposal dan profil perusahaan. Buat satu halaman berisi judul artikel, nama media, tanggal, dan link. Calon investor atau mitra bisa mengeceknya sendiri.

Satu hal yang perlu dijaga: jangan mengubah judul atau isi artikel saat membagikannya. Kalau kamu memotong kutipan, pastikan maknanya tetap sama. Pembaca yang membuka link akan melihat versi aslinya.

Contoh situasinya: sebuah usaha kopi kemasan di Yogyakarta mengumumkan kerja sama dengan koperasi petani lewat press release. Setelah liputannya tayang, mereka membuat unggahan berisi kutipan ketua koperasi, memasang link di sorotan "Diliput media", dan melampirkan link yang sama di proposal ke jaringan kafe. Contoh ini rekaan untuk ilustrasi.

Apakah press release bisa membuat bisnismu dikutip mesin AI?

Ada peluangnya, tapi tidak ada yang bisa menjanjikan. Fitur AI di mesin pencari seperti AI Overviews di Google mengambil rujukan dari halaman yang sudah terindeks.

Google menyebut syaratnya sama dengan pencarian biasa: halaman harus terindeks dan bisa ditampilkan di Google Search dengan cuplikan. Google juga menyebut tidak ada optimasi khusus yang diperlukan, dan pengindeksan maupun penayangan tidak dijamin (Google Search Central).

Jadi, artikel liputan tentang bisnismu menambah jumlah halaman yang menyebut namamu dengan konteks yang jelas. Itu bisa membantu saat orang bertanya ke mesin pencari atau asisten AI. Tapi tidak ada jaminan artikel tertentu akan dikutip. Hal serupa berlaku untuk tautan ke situsmu: sebagian media mencantumkannya, sebagian tidak, dan satu artikel tidak bisa diandalkan untuk menaikkan peringkat situs secara drastis.

Tanya-jawab

Lebih penting mana, press release atau media sosial?

Keduanya punya tugas berbeda, jadi tidak perlu dipilih salah satu. Media sosial dipakai untuk mengobrol dengan pelanggan dan promosi rutin. Press release dipakai untuk kabar penting yang perlu tercatat dan dinilai pihak ketiga.

Seberapa sering bisnis perlu membuat press release?

Ikuti ada atau tidaknya kabar yang layak diberitakan, bukan jadwal tetap. Kemitraan baru, hasil riset, pencapaian, atau klarifikasi isu bisa jadi alasan. Kalau kabarnya dipaksakan, redaksi cenderung menolak.

Apakah press release bisa membuat produk laris?

Jangan berharap itu sebagai hasil langsung. Press release lebih berperan membangun kepercayaan, misalnya saat calon pembeli mencari namamu dan menemukan liputan media. Untuk mendorong penjualan cepat, promosi di media sosial atau iklan lebih tepat.

Kalau liputannya sudah lama, masih boleh dibagikan?

Boleh, selama isinya masih benar. Tulis tanggal terbitnya dengan jujur supaya pembaca tidak salah paham. Kalau ada informasi yang sudah berubah, tambahkan catatan singkat saat membagikannya.

Bagaimana mengukur hasil press release?

Catat di media mana saja artikelnya tayang dan simpan semua link-nya. Setelah itu, perhatikan apakah link tersebut dipakai dan dibuka, misalnya dari unggahan media sosial, proposal, atau pertanyaan calon mitra yang menyebut liputan itu.

Mau kabarmu tercatat di media online?

Kalau kamu punya kabar yang layak diberitakan, Partnermedia.id bisa membantu dari penulisan naskah sampai distribusi ke media online nasional. Di paket distribusi, kamu bebas memilih media sesuai jumlah paket, ada garansi tayang, artikel tayang permanen selama situs media aktif, dan kamu menerima laporan link semua artikel. Link itulah yang nanti bisa kamu pakai di media sosial, bio, dan proposal. Redaksi tetap berhak menyunting atau menolak, dan halaman 1 Google maupun Google News tidak dijamin. Ceritakan kabarmu lewat WhatsApp, Senin–Jumat pukul 09.00–18.00.

Mau kabar bisnismu tayang di media online nasional? Partnermedia.id bantu tulis naskahnya dan kirim ke media pilihanmu.

Konsultasi lewat WhatsApp