Press Release vs Advertorial: Apa Bedanya dan Mana yang Cocok untuk Bisnismu?
· Partnermedia.id
Jawaban singkat
Press release adalah kabar resmi bisnismu yang dikirim ke redaksi, lalu redaksi memutuskan memuat, menyunting, atau menolaknya. Advertorial adalah iklan berbentuk artikel: kamu membayar media, isinya lebih bisa kamu atur, dan media online wajib memberi label seperti 'advertorial' atau 'iklan'. Pilih press release untuk kabar yang layak diberitakan, advertorial untuk pesan promosi.
Di halaman media online, dua tulisan bisa terlihat mirip. Sama-sama ada judul, foto, dan paragraf rapi. Bedanya baru kelihatan kalau kamu tahu siapa yang memutuskan isinya dan siapa yang membayar. Satu bisa jadi press release yang dimuat redaksi, satunya lagi advertorial, yaitu iklan yang ditulis seperti artikel. Panduan ini membantu kamu memilih jalur yang pas untuk kabar bisnismu.
Apa itu press release?
Press release adalah tulisan resmi dari bisnis atau lembaga yang dikirim ke redaksi media, berisi kabar yang menurutmu layak diberitakan. Redaksi yang memutuskan apakah kabar itu dimuat, disunting dulu, atau tidak dimuat.
Karena pembaca pertamanya redaksi, press release ditulis dengan gaya berita: lugas, berbasis fakta, tanpa bahasa jualan. Kalau mau tahu lebih jauh soal momen yang layak dirilis, baca Apa Itu Press Release, dan Kapan Bisnismu Perlu Membuatnya?.
Apa itu advertorial?
Advertorial adalah iklan yang dikemas dalam bentuk artikel. KBBI mengartikannya sebagai "iklan yang berupa berita (bukan gambar atau poster)" dan memberi padanan "pariwara" (kbbi.web.id).
Jadi, meski tampilannya mirip berita, advertorial tetap iklan. Kamu membayar media untuk menayangkannya, dan pesannya sudah disepakati sejak awal. Siapa yang menyusun naskahnya tergantung kesepakatan dengan media. Ada yang menerima naskah dari pengiklan, ada juga yang menyediakan penulis.
Apa beda press release dan advertorial?
Bedanya ada di tiga hal: siapa yang memutuskan isi, ke mana uangnya mengalir, dan apakah tulisan itu diberi label iklan. Tabel ini merangkum perbedaannya.
| Aspek | Press release | Advertorial |
|---|---|---|
| Siapa yang menulis | Kamu sendiri atau penulis yang kamu tunjuk, lalu redaksi bisa menyunting | Tergantung kesepakatan: pengiklan atau tim media |
| Bayar ke siapa | Gratis kalau kamu kirim sendiri ke redaksi, berbayar kalau memakai jasa penulisan atau distribusi | Ke media yang menayangkan, sebagai biaya iklan |
| Label di media | Tayang sebagai berita kalau redaksi memuatnya dari kiriman biasa, tapi isi berbayar tetap wajib diberi label | Wajib diberi keterangan seperti "advertorial", "iklan", "ads", atau "sponsored" |
| Kontrol isi | Di tangan redaksi: bisa disunting atau ditolak | Lebih besar di tanganmu, selama mengikuti aturan media |
| Gaya bahasa | Jurnalistik, faktual, tanpa kata promosi | Boleh lebih promosi, misalnya menyebut keunggulan produk atau ajakan membeli |
| Kesan di mata pembaca | Dibaca sebagai berita tentang bisnismu | Pembaca bisa tahu dari labelnya bahwa ini iklan |
| Cocok buat apa | Kabar baru yang punya nilai berita: kemitraan, riset, pencapaian, klarifikasi | Promosi produk, kampanye musiman, penjelasan produk yang panjang |
Dua baris yang paling sering membingungkan adalah label dan kontrol isi. Keduanya dibahas di bawah.
Apakah advertorial wajib diberi label?
Ya, advertorial wajib diberi label. Pedoman Pemberitaan Media Siber dari Dewan Pers mewajibkan media online membedakan dengan tegas antara berita dan iklan (ANTARA).
Pedoman yang ditandatangani di Jakarta, 3 Februari 2012, itu juga mewajibkan setiap berita, artikel, atau isi yang merupakan iklan dan/atau isi berbayar mencantumkan keterangan "advertorial", "iklan", "ads", "sponsored", atau kata lain yang menunjukkan tulisan itu iklan (CNN Indonesia). Media siber adalah sebutan untuk media berita yang terbit di internet.
Artinya, kalau kamu memesan advertorial, siap-siap tulisanmu tampil dengan label tersebut. Dengan label itu, pembaca tahu sedang membaca berita atau iklan.
Kalau press release lewat jalur berbayar, apakah tetap dianggap berita?
Jawabannya tergantung pada media yang memuatnya. Pedoman tadi menyebut "isi berbayar" juga wajib diberi keterangan, jadi media bisa saja memberi label pada press release yang tayang lewat jalur berbayar.
Yang tidak berubah adalah sifat naskahnya. Press release tetap ditulis sebagai kabar, dengan fakta yang bisa dicek dan kutipan dari orang yang berwenang. Kalau kamu memakai jasa distribusi, tanyakan sejak awal bagaimana tampilan tulisan di media tujuan, termasuk soal label.
Kenapa redaksi bisa menyunting atau menolak press release?
Salah satu alasannya, redaksi bekerja dengan prinsip independen. Kode Etik Jurnalistik Pasal 1 menyebut wartawan Indonesia bersikap independen. Di bagian penafsirannya, independen diartikan sebagai memberitakan peristiwa atau fakta sesuai suara hati nurani, tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain, termasuk pemilik perusahaan pers (RMOL).
Buat kamu, ini punya dua sisi. Kamu tidak bisa memaksa kalimat tertentu muncul persis seperti naskahmu. Tapi kalau kabarmu dimuat sebagai berita, tulisan itu lahir dari pertimbangan redaksi, bukan dari pesanan iklan. Supaya peluangnya lebih besar, ikuti susunan di Cara Menulis Press Release yang Dilirik Redaksi.
Mana yang cocok untuk bisnismu?
Pakai press release kalau kabarmu masih baru dan berguna buat orang yang belum kenal bisnismu. Pakai advertorial kalau tujuan utamamu promosi dan kamu ingin pesannya tampil sesuai rancanganmu.
Ini beberapa contoh situasinya:
- Klinik gigi di Bandung meneken kerja sama dengan sebuah universitas untuk program pemeriksaan gratis di sekolah. Ada siapa, apa, dan kenapa penting buat warga. Ini bahan press release.
- Toko perabot online ingin mengenalkan koleksi baru lengkap dengan harga dan kode diskon. Isinya ajakan membeli, jadi redaksi kemungkinan besar memotongnya. Untuk kabar seperti ini, advertorial lebih cocok.
- Usaha katering mengumpulkan data dari pesanannya sendiri tentang menu yang paling sering dipesan untuk acara kantor. Data seperti ini bisa jadi kabar baru, jadi bisa dibuat press release, asalkan cara pengumpulannya ditulis jelas.
- Pengembang aplikasi kasir ingin menjelaskan fitur demi fitur secara panjang ke calon pengguna. Penjelasan produk sedetail ini lebih pas sebagai advertorial atau konten di situsmu sendiri.
- Beredar kabar keliru bahwa sebuah pabrik roti tutup. Klarifikasi resmi dengan fakta dan kutipan pemilik lebih tepat lewat press release.
Semua contoh di atas rekaan untuk latihan.
Kalau kamu ragu, coba tanya: apakah kabar ini tetap menarik kalau semua kata promosinya dihapus? Kalau iya, mulai dari press release. Kalau setelah dihapus isinya jadi kosong, kabarmu memang pesan promosi.
Tanya-jawab
Apakah advertorial sama dengan press release berbayar?
Keduanya tidak persis sama. Advertorial adalah iklan berbentuk artikel yang pesannya disepakati dengan media, sedangkan press release adalah kabar yang ditulis dengan gaya berita. Press release yang tayang lewat jalur berbayar bisa saja diberi label oleh media, karena pedoman Dewan Pers mewajibkan keterangan untuk isi berbayar, tapi naskahnya tetap berupa kabar.
Apakah advertorial bisa tayang tanpa label?
Menurut Pedoman Pemberitaan Media Siber, tidak boleh. Media online wajib mencantumkan keterangan seperti "advertorial", "iklan", "ads", "sponsored", atau kata lain yang menunjukkan tulisan itu iklan.
Boleh menulis kata promosi di press release?
Sebaiknya hindari kata promosi. Kata seperti "terbaik", "termurah", atau "wajib coba" membuat naskah terbaca seperti brosur, dan redaksi bisa memotongnya atau menolak naskahmu. Kalau kamu memang butuh kalimat promosi, jalurnya advertorial.
Bisakah satu bisnis memakai keduanya?
Bisa, untuk kabar yang berbeda. Misalnya, kemitraan baru diumumkan lewat press release, lalu promosi produk hasil kemitraan itu ditayangkan sebagai advertorial. Yang penting, jangan memaksakan pesan jualan ke dalam press release.
Mana yang lebih murah, press release atau advertorial?
Press release bisa gratis kalau kamu menulis dan mengirimnya sendiri ke redaksi, tapi tidak ada kepastian dimuat. Biaya advertorial ditentukan masing-masing media, jadi tanyakan langsung ke media yang kamu incar. Jasa penulisan dan distribusi press release juga berbayar, dan harganya beda-beda tiap penyedia.
Mau menayangkan kabarmu lewat press release?
Kalau kabarmu lebih cocok jadi press release, Partnermedia.id bisa membantu dari penulisan naskah sampai distribusi ke media online nasional. Di paket distribusi, kamu bebas memilih media sesuai jumlah paket, ada garansi tayang, dan kamu menerima laporan link semua artikel yang tayang. Redaksi tetap berhak menyunting atau menolak naskah. Kalau ditolak, naskah bisa direvisi atau dialihkan ke media pengganti, dan kalau keduanya tidak memungkinkan, biaya media itu dikembalikan. Ceritakan kabarmu lewat WhatsApp, Senin–Jumat pukul 09.00–18.00.
Mau kabar bisnismu tayang di media online nasional? Partnermedia.id bantu tulis naskahnya dan kirim ke media pilihanmu.
Konsultasi lewat WhatsApp